Hari Bersejarah
Jumat, 25 Februari 2011

Hari ini, 25 Februari 2011, merupakan hari bersejarah bagiku. Pasalnya, 25 Februari 2000, tepat pada hari Jumat, Bapakku mengembuskan nafas terakhir. Karena peristiwa itulah, semangatku terus bangkit untuk melihat preseden sebagai pemacu hidup lebih baik. Kini 11 tahun berlalu tanpa terasa. Dulu aku adalah anak laki-laki kecil berumur 11 tahun, masih cukup kecil untuk menerima kenyataan yang begitu berat. Sepeninggalnya Bapak, mungkin orang yang paling terpukul adalah Ibu. Bagaimana bisa Bapak yang umurnya masih 51 tahun waktu itu meninggalkan istri dan sebelas anaknya. Sungguh pukulan yang sangat kencang bagi Ibu. Tetapi aku selalu menguatkan Ibu bahwa beliau adalah orang yang dipilih Allah untuk mengurus anak-anak yatim dan Allah Maha Tahu cobaan yang dibebankan kepada hamba-Nya tidak mungkin tidak bisa dipikul.
Ibu jatuh bangun mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Kadang ibu harus bangun pagi-pagi sekali untuk menggoreng risoles yang dijual dan hasilnya untuk membeli makanan hari ini. Kadang Ibu harus membungkus teh dalam plastik kecil kemudian dibekukan agar bisa dijajakan di warung-warung. Aku pun turut serta kadang menyisihkan daun pisang yang masih hijau untuk dijual di tukang nasi uduk. Jatuh bangun ibu yang begitu intens memercikkan makna mendalam untuk dicerna, menelurkan semangat, menenggelamkan putus asa, menyemai harapan dan menebarkan kebaikan.
Keringat Ibu tidak sia-sia, walaupun hanya bekerja seperti itu ditambah pensiunan ayah yang habis untukku saja dan ditambah rezeki yang tak terduga dari mana asalnya, berapa jumlahnya, dan kapan datangnya. Ibu akhirnya kini memiliki 5 anak yang sudah menyelesaikan S1 dan 1 anak yang menyelesaikan S2. Bagi kebanyakan orang, raihan ini tidak begitu hebat, tapi bagi Ibuku yang single parent, yang tidak memiliki penghasilan tetap, dan beliau sendiri hanya sekolah sampai SD kelas 4, merupakan torehan yang membanggakan bagi dirinya, karena ternyata tidak harus kaya untuk sekolah. Hal yang dibutuhkan adalah semangat dan kreativitas untuk tetap bertahan hidup dan hidup layak.
Bapak dan Ibuku
Bapakku dilahirkan pada 05 Juli 1949 di sebuah desa kecil di Bogor, desa Cimayang Sari, Cibatok. Ayahnya, yang juga Abahku, asli Bogor dan uminya, aku memanggilnya ibu, merupakan asli Banten. Konon kabarnya pertemuan kakek dan nenekku ini di pesantren tempat bapakku nyantri juga, di Banten, yang mana peristiwa itu menginspirasi Bapak mencari calon istri di pesantren. Bapak memang dari keluarga yang subur, beliau memiliki 6 saudara hidup dan 3 lainnya meninggal saat kecil. Dengan meninggalnya kakak-kakak Bapak, maka secara otomatis Bapak menjadi anak pertama.
Masa kecil Bapak dihabiskan di desanya, sama seperti anak-anak lain. Akan tetapi, beliau hijrah ke Banten untuk menimbal ilmu agama selama kurang lebih 8 tahun. Saat-saat itulah Bapak melirik gadis asal bekasi asli yang juga nyantri di sana. Ya, gadis itu adalah ibuku. Bapak langsung mengirim surat ke nenekku di Bekasi untuk bisa meminang Ibu. Ibu sempat bingung karena pada saat yang bersamaan ada juga yang melamarnya. Tapi Nenek lebih setuju dengan Bapak. Sekitar tahun 1969 atau 1970 Bapak dan Ibu menikah di Bekasi. Bapak kerap kali mengajak Ibu tinggal di Bogor. Namun, keinginan itu diurungkan karena tidak diizinkan oleh Nenek. Akhirnya, untuk mengikat Bapak supaya tidak pindah ke Bogor, nenek memberikan sebidang tanah beserta rumahnya, tanpa plester tembok dan hanya berukuran kecil saja. Sumber air saat itu dari sumur kerek. Istilah sekarang, tidak ngerek tidak mandi. Sebagai informasi, nenekku yang di Bekasi adalah seorang business woman, pedagang keliling. Mungkin darah pedagang Ibu mengalir dari Nenek. Uniknya, nenek selalu membeli tanah setiap kali mempunyai uang. Sehingga pada akhir hidupnya nenek membagi-bagikan tanah yang cukup luas kepada anak-anaknya.
Saat itu di depan rumahku sawah terbentang luas, hijau. Kali begitu jernih mengairi sawah tersebut. Jalan raya KH. Abu Bakar, yang dulu belum ada nama jalan itu dan mungkin Kyai tersebut masih hidup saat itu, masih berupa tanah saja, belum ada mobil ataupun kendaraan-kendaraan melintas. Di sekitar rumahku pun masih berupa kebun dan ada 9 buah pohon rambutan dan satu empang tempat Bapak menternak ikan lele. Sambil berternak dan bertani, Bapak mengajar di sebuah sekolah. Waktu itu, gajinya tidak lebih dari 300 rupiah. Bapak sering mengajak ibu pergi ke Bogor, di sanalah ibu menjadi tiasa sunda. Menurut Ibu, dulu tol Jagorawi itu sangat licin sehingga tidak terasa berjalan ketika bus melaju, sangat nyaman. Tapi sekarang penuh dengan gajlugan. Seandainya Bapak dan Ibu tinggal di Bogor, mungkin aku sudah menjadi orang sunda asli, bukan betawi.
Pada tahun 1972, ibu melahirkan anak pertama, seorang laki-laki. Tahun 1974, melahirkan anak perempuan, tahun 1978 melahirkan anak laki-laki, tahun 1980 melahirkan anak perempuan, 1982 melahirkan anak perempuan, 1985 melahirkan anak perempuan, tahun 1988 melahirkan aku, tahun 1990 melahirkan anak perempuan, tahun 1992 melahirkan anak laki-laki, tahun 1995 melahirkan anak perempuan, dan terakhhir pada tahun 1998 melahirkan anak laki-laki. Jumlah total ada 11, lengkap.
Di antara tahun-tahun itu, ada tahun ketika Bapak menginisiasi pendirian Mushola di kampungku. Ini pula yang patut dicontoh karena waktu itu belum ada mushola yang dekat dengan rumah. Untuk ke masjid cukup jauh sehingga Bapak mengajak senior-senior kampung untuk mendirikan mushola dengan wakaf tanah dari kakak kakekku yang di Bekasi. Sampai sekarang Mushola itu terus dipakai masyarakat kampung khususnya dan pengguna jalan KH. Abu Bakar pada umumnya. Mudah-mudahan pahala jariyahnya terus mengalir. Amin..
Sekitar tahun 1991, Bapak Kuliah di Universitas Islam 45 Bekasi, jurusan PAI. Sebuah prestasi yang membanggakan karena walaupun sudah memiliki sembilan anak, Bapak berusaha untuk tetap kuliah. Pada tahun 1994, Bapak diwisuda dengan membawa seluruh anaknya dan saudara-saudara dekat. Begitu ramai wisuda saat itu. Bapak pun menorehkan sejarah sebagai wisudawan pertama dalam keluarganya. Meskipun S1 di usia yang cukup tua, tetapi semangat dan kreativitas Bapak mendebarkan jantungku untuk selalu memancang semangat di tempat yang tinggi dan berusaha untuk menorehkan sejarah baru, menjadi Doktor pertama dalam keluarga. Amin..
Tapi apa boleh buat, kematian memang sangat dekat, dengan urat nadi pun kalah dekat. Tatkala maut menjemput, tak ada yang bisa mengelak dan menolak. Semua sudah dipastikan. Pada Jumat 25 Februari 2000 itu, Bapak yang tidak memiliki penyakit jantung, secara tiba-tiba terkujur lemas dengan wajah membiru, tak mendengar siapa-siapa dan tak bersuara. Keadaan rumah yang sepi menjadi ramai dikunjungi orang. Ba’da Ashar, aku baru pulang mengaji. Sebelum ashar aku berpamitan dengan Bapak, kemudian setelah Ashar bapak tidak berpamitan untuk selamanya. Pakaian yang dikenakan Bapak saat itu dirobek setelah mendengar vonis dari dokter bahwa Bapak sudah tidak ada. Isak tangis, menyelimuti kepergian Bapak. Kakakku yang pertama memejamkan mata Bapak sambil membaca doa, sementara aku masih tidak percaya Bapak meninggal, tanpa pesan tersurat dan tanpa nasehat tersirat. Setelah pakaian bapak dirobek, kemudian Bapak ditutup kain, diangkat menuju ruang tamu untuk disemayamkan.
Sepanjang malam air mataku tak habis, terus tercucur karena kehilangan sosok yang selama ini aku andalkan. Sayangnya, aku tidak menyaksikan bapak dimandikan. Aku hanya menyaksikan ketika Bapak dikafani. Aku melihat detik demi detik proses itu, sampai akhirnya Bapak dikafani secara menyeluruh dan disholatkan. 26 Februari 2000, Bapak dimakamkan. Penyesalan yang sampai saat ini masih terasa adalah ketidakmampuanku mengantar kepergian Bapak ke liang lahadnya.
Kini sudah 11 tahun sepeninggal Bapak. Aku sudah memasuki dewasa awal sekarang. Pertumbuhanku tanpa ditemani seorang ayah, tapi perkembanganku sarat pengalaman bersamanya. Self-education based on what my father experienced is the key to me to bring my life brighter. Even though many obstacles come and come, I will never give up at all. Self-motivation meant intrinsic motivation must be fast planted and gradually revitalized in order to make our way straight and focus on goal.